Komersialisasi - Pendidikan

share fbshare twitter
10 October 2011 - adhik

"Malas ikut, tapi ikut atau ngga ikut tetep aja bayar, Bli!", sahut adik saya ketika saya menanyakan perihal study tour dengan biaya 1,6 juta rupiah yang direncanakan oleh pihak SMA tempat ia menuntut ilmu. Ironis memang, siswa wajib membayar walau nantinya memilih untuk tidak mengikuti kegiatan study tour bersangkutan. Apakah hanya sekolah ini saja? saya yakin tidak, apalagi di daerah-daerah yang ekonominya maju. Kegiatan semacam ini menjadi semacam rutinitas tahunan walaupun tidak signifikan terbukti dalam meningkatkan kualitas intelektual siswa. Orangtualah yang kemudian terbebani secara materi (baca: uang) dengan kegiatan yang kurang optimal dan tepat sasaran ini.

Mengapa saya berkata demikian? saya, anda, dan hampir semua alumni sekolah yang pernah mengikuti studi banding semacam ini sewaktu masih mengenakan seragam sekolah pasti memahami apa saja kegiatan yang dilakukan di lokasi studi banding. Kalau bisa saya katakan, maka kegiatan ini adalah 40% waktu perjalanan, 20% kegiatan, dan 40% wisata (jalan-jalan dan oleh-oleh cheeky). Tapi saya juga tidak mengklaim bahwa studi banding benar-benar tanpa manfaat. Kegiatan di luar lingkungan sekolah memang akan memberikan atmosfir baru dan pengetahuan tentang "apa yang ada di luar sana". Siswa pun diberikan tugas untuk membuat resume tentang perjalanannya, walaupun saya yakin sangat kecil kemungkinan para guru untuk membaca resume para siswa tersebut (CMIIW angel)

Dengan biaya sebesar itu, banyak kegiatan positif lain yang sebenarnya dapat dilakukan oleh pihak sekolah. Kegiatan outing class ke perusahaan atau lembaga yang masih dalam jangkauan yang tidak terlalu jauh pun sebenarnya terbilang cukup dan akan dapat memangkas 40% klaim waktu perjalanan. Kegiatan pun akan menjadi lebih efektif karena kondisi siswa yang lebih fit, tidak terbebani jarak perjalanan yang jauh, dan biaya yang lebih terjangkau. Pihak sekolah tinggal mensiasati pemilihan lokasi saja agar tidak membosankan dari tahun ke tahun. Daripada mengenal daerah lain, mengapa tidak mencoba untuk mengenali terlebih dahulu daerah sendiri yang kemungkinan besar belum sepenuhnya tereksplorasi.

1,6 juta mungkin ringan bagi kalangan tertentu, tapi tidak untuk sebagian besar orang tua. Ya, studi banding sudah menjadi semacam tradisi pendidikan yang tidak tepat guna. Anehnya, tradisi ini juga sepertinya dianut para wakil rakyat yang kemudian rela menghamburkan uang untuk melaksanakan studi banding ke luar daerah bahkan keluar negeri hingga menghabiskan dana milyaran rupiah.
Ah.. indecision

Publication Category: 

Comments (4)

Kita tidak pernah membuang keyakinan “pendidikan merupakan proses moderenisasi, segala yang tidak sejalan dengan moderenisasi bukanlah pendidikan”. Itulah soalnya, itulah akar masalahnya. Ini andil sejarah!!! Kemudian pendidikan menjadi “gengsi”, karena menyandang sekaligus menghasilkan atribut-atribut moderenisme. Karenanya, tenaga, uang, dan waktu harus dikerahkan ke sana. Otomatis pendidikan menjadi komoditi.

adhik's picture

Saya setuju bahwa modernisasi membawa dampak bagi dunia pendidikan, memang pendapat anda ada benarnya. Dalam konteks tulisan saya, study tour atau studi banding telah menjadi kurikulum "dunia modern" yang seakan wajib dilaksanakan tiap generasi siswa. Mungkin jika hasilnya sebanding, kegiatan ini perlu dipertahankan. Namun jika tidak? ah...ngapain... indecision

Tetapi, saya heran karena siswa yang tidak mengikuti kegiatan tersebut pun harus membayar biaya studi banding. Justru, menurut saya, siswa yang tidak mengikuti pun memiliki beban yang lebih besar daripada siswa yang mengikuti kegiatan tersebut.

adhik's picture

Ya, memang begitulah faktanya disini mbak.. Sudah jadi rahasia umum tuh angel

Add new comment